Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Sunday, April 3, 2016

Korupsi! Cor Jalan Beton kok Tulangnya Pake Kayu?


Kaos Koruptor - Ini Korupsi kecil-kecilan parah banget..

Bagaimana infrastruktur jalan di Mesuji tidak lekas hancur?, cor jalan beton ini ternyata tulangnya menggunakan kayu gelam bukan Kawat besi seperti yang semestinya. Kemana nih pemdanya? Kok tutup mata?. LOKASI FOTO : Jalan menuju Kota Terpadu Mandiri (KTM) Pasar Pagi Sp6.

#AyoLawanKorupsi

Running Text LED tulisan China di Stasiun Manggarai


Agus Sriyanto - Ini bukan di china loh ya! Tapi ini masih di indonesia. Ini posisi jalur 3 stasiun Manggarai, Jakarta - Indonesia. BUKAN di cina sekali lagi bukan china biar nanti yg mimpi mau ketemu jet lee tdk tersesat. Tapi meski msh di jakarta aneh di papan ada tulisan yg berjalan/ Running Text LED , tidak ada tulisan Indonesianya. Kl alasan biar bisa internasional kenapa tdk pakai bahasa Inggris sifatnya lebih mendunia bahasanya kenapa harus bahasa china???? #GagalPaham
Benar-benar Indonesia cita rasa China.

Thursday, March 31, 2016

Jonru: Ternyata Kita Memang Barisan Sakit Hati

Jonru - Barusan saya nemu gambar ini di status seorang teman. Saya langsung menertawakan diri sendiri. Ternyata BENAR SEKALI tuduhan para haters selama ini. Kita memang BARISAN SAKIT HATI.

Kita sakit hati terhadap pemerintah yang menipu rakyat. Kita sakit hati terhadap hukum yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Kita sakit hati terhadap ketidakadilan yang makin merajalela.

Kita memang barisan sakit hati.

Namun semoga ini adalah sakit hati yang menyembuhkan. Semoga ini adalah sakit hati yang makin mendekatkan kita pada Allah. Sebab ketika kita tak punya daya untuk melawan kesewenang-wenangan, setidaknya hati kita melawan. Setidaknya hati kita tidak setuju terhadap ketidakadilan yang terjadi.

Alhamdulillah, bersyukurlah karena kita masih waras.

Apa Kabar Sumber Waras? Semoga yang korupsi di sana masih waras hingga hari ini.

Wednesday, March 30, 2016

Arham Rasyid: Melihat Sisi Lain Meledaknya Granat UHO



Arham Rasyid - Sekadar melihat dari sisi lain.

Terlepas dari konyolnya penggunaan bahan peledak asli dalam simulasi, siapa yang salah, serta berbagai tudingan miring kinerja yg tidak profesional, ada yang luput dari bahasan banyak media soal tragedi yang menimpa kampus gw kemarin.

Menurut teman wartawan yang standby di TKP dan mengumpulkan info dari beberapa saksi mata serta melihat posisi jenazah, polisi yg jadi korban itu sudah melakukan hal heroik yg patut diapresiasi. Ia refleks menelungkupkan badan menghadap granat yg jatuh menggelinding, ketimbang memilih melompat, lari, atau menjauh. Jika saja itu gak dilakukan, granat nanas dengan daya ledak seperti itu gak mungkin hanya menewaskan empat orang termasuk dirinya di antara banyaknya peserta simulasi dalam ruangan.

Aksi yg sungguh gak sepadan dibalas dengan cemoohan.
Duka mendalam untuk korban. Semoga keluarga diberi ketabahan.

Jaya Setiabudi: Keluargaku Dulu China Kafir, Seperti yang Kau Teriakkan!



Jaya Setiabudi - KELUARGAKU dulu CHINA KAFIR, Seperti Kau Sering Teriakkan..!

Tak ada yang bisa memilih, kita akan lahir di rahim siapa, berkulit apa, dan dimana. Saya, 7 bersaudara:

6 Muslim, 1 Nasrani.
5 orang menikah dengan ‘pribumi’.
Ayah masuk Islam di usia 73, setahun sebelum meninggal.
Ibu masuk Islam tahun lalu, di usia 79.
Ayah dan Ibu suku Tionghoa atau Anda sering menyebut CHINA.

Saya dan keluarga tak pernah teriak, “Si Kafir itu…” kepada siapapun. Kenapa?

Mau nyimak cerita saya?

Ayah saya adalah sosok nasionalis dan idealis tulen yang saya kenal. Cita-citanya menjadi ABRI tak terpenuhi, karena orang tua tak mengijinkan. Kakak pertama saya melanjutkan cita-cita itu sebagai ABRI. Kakak ketiga gagal menjadi ABRI, karena mata sedikit minus.

Jika ditanya, “Papah gak pengin jalan-jalan keluar negeri?”. Jawabnya, “Ngapain? Indonesia aja bagus, gak habis keliling Indonesia”.

18 tahun kerja di bank swasta, dengan prestasi terakhir menaikkan revenue perusahaan 20 kali lipat dalam 5 tahun menjabat. ‘Dipaksa’ mengundurkan diri karena membela seorang karyawan baru yang ‘pribumi’, yang akan digeser oleh titipan direksi yang Tionghoa.

Kemudian beliau melanjutkan kerja di usia 50 an, sebagai manajer keuangan di suatu perkebunan di Lampung. Percakapan yang paling saya ingat saat berkunjung kesana, “Ya’ (panggilan saya), coba lihat, orang-orang (buruh) itu dibayar dibawah angka kebutuhannya (UMR). Kalau mereka punya anak 3 atau lebih, gak akan cukup untuk hidup, maka mereka akan ‘maling’. Suatu saat, kalau kamu jadi bos, jangan pernah bayar karyawanmu dibawah angka kebutuhannya.”

5 tahun bekerja sebagai manajer keuangan, membuat ayah saya dikeluarkan, karena membongkar sindikat koruptor yang melibatkan adik pemilik perusahaan. Di malam terakhir di Lampung, saya mendampingi dan mendengar ta’mir (pengurus) masjid setempat berkata, “Kami sangat kehilangan Pak Untung (ayah saya). Selama Pak Untung disini, ibadah kami, Bapak permudah. Pak Untung sudah seperti orang tua kami.”, air mata saya pun berlinang. Saat itu ayah saya belum memiliki agama, masih Kong Hu Cu (tradisi).

Di usia 55 tahun lebih, ayah melanjutkan bekerja di Purbalingga. Memilih tinggal di rumah penduduk dan mengembalikan fasilitas mobil sedan. Saya pun bertanya, “Kenapa papah balikin mobil itu? Kan bisa dipakai buat transportasi?”. Beliau menjawab, “Gak ahh, malu. Lha wong mereka (buruh) masih dibayar dibawah UMR, koq papah orang baru datang, udah pakai mobil mewah. Gimana omongan papah akan didengar mereka?”.

Akankah Anda mengatakan “China Kafir” kepada ayah saya?

Sekarang kisah saya..

Di usia 7 tahun, sejak pindah ke rumah yang ketiga, kami tinggal di lokasi yang berdekatan dengan kampung di kota Semarang. Sungguh kaget, saat keluar rumah, anak kampung setempat berteriak, “CHINO..!!”, dan langsung mengejar kemudian memukuli saya bertubi-tubi. Bosan melarikan diri terus, saya mulai melawan. Mau gak mau belajar berkelahi.

Saat SD, kami sekeluarga disekolahkan di SD Katholik, alasan ayah saya, karena disiplinnya bagus. Namun ayah saya ingin anak-anaknya berbaur, maka saat SMP, kami semua masuk ke SMP negeri. Dimana saat itu hanya 2 orang ‘keturunan’ per angkatan. Kami tak pernah merasa sebagai seorang ‘keturunan’. Ayah kami mendidik kami anti rasialis. Hal itu dibuktikan, ayah saya mengasuh seorang suku Bali, kuliah dan tinggal bersama kami selama 8 tahun.

Sungguh kaget, saat kawan-kawan di SMP berteriak, “CHINO..!”. Dan saya pun balas berteriak, “CHINO MATAMUU..!”. Perkelahian pun sering terjadi.

Sejarah masuk Islam

Karena di sekolah negeri, pelajaran ‘default’ agama adalah Islam, kakak pertama saya mempelajari dan tertarik untuk memeluk Islam saat kelas 2 SMP. Kami, adiknya, satu-persatu masuk Islam saat masuk SMP, kecuali kakak perempuan saya. Tentu saja ayah dan ibu saya belum juga.

Lulus kuliah, saya merantau ke Batam dan berjumpa dengan istri saya, yang saat itu beragama nasrani. Kenapa istri saya mau masuk Islam? Inilah perkataannya, “Aku dulu sama sekali ANTIPATI dengan orang Islam, karena orang-orang Islam yang kukenal, KASAR dan RASIALIS. Waktu ketemu kamu dan kenal kawan-kawanmu (yang muslim), baru aku melihat bahwa Islam itu damai”.

Kakak kami tertua tak pernah meminta kami mengikutinya masuk Islam. Saya pun tertarik masuk Islam di usia 11 tahun, saat SD, karena melihat kakak-kakak saya sholat. Begitu juga, ayah dan ibu saya, tak ada keterpaksaan masuk Islam. Saya meyakini, agama itu adalah akhlaq yang harus ditunjukkan, bukan dalil yang digemborkan.

Seandainya, ayah saya mencalonkan menjadi gubernur, saat sebelum masuk Islam, maka saya akan tetap memilih beliau, karena saya tahu, beliau adalah sosok pemimpin yang bijak.

Anda mungkin sudah menebak arah saya kemana. Ya, benar dan mungkin salah. Saya tak memihak Ahok, karena saya tak mengenal beliau dan saya tahu politik terlalu rumit untuk dipahami. Jika pun saya ber KTP Jakarta, maka saya akan memilih Bang Sandiaga Uno, karena beliau adalah mentor saya dan saya ‘lebih’ mengenal beliau. Tidak ada jaminan akan lebih baik dari Ahok.

Poin saya adalah..

Saya pernah KAFIR dan saya tak suka disebut KAFIR, juga CHINA.
Ayah, ibu, kakak, istri saya pernah KAFIR, dan mereka tak suka disebut KAFIR, juga CHINA.
Maka saya tak akan menggunakan kata-kata itu untuk Ahok atau siapapun.

Memaki dan menghujat tak membuat Islam lebih tinggi, justru Anda telah merendahkan Islam dan memecah belah bangsa ini. Kalau Anda yakin Islam “rahmatan lil ‘alamiin”, tunjukkan saja dengan akhlaq, bukan dengan beribu dalil. Hewan dan tumbuhan saja harus kita sayangi, apalagi manusia. Kalau Anda yakin (dan saya yakin), masih banyak pemimpin muslim yang pantas, tunjukkan saja siapa mereka dan apa prestasinya untuk umat.

Bagi Anda suku Tionghoa..

Kita sudah belajar pahitnya jaman RASIALIS. Jangan Anda mempertahankan rasialis Anda, dengan memilih Ahok karena SUKU atau AGAMA. Pilihlah pemimpin yang adil, siapapun itu. Terbukti yang membebaskan kita dari rasialisme bukanlah Soeharto, namun seorang Kyai bernama Gusdur.

Bagi yang tak setuju..

Saya tahu perdamaian adalah hal yang mustahil, karena selalu akan ada yang berdalih dengan dalil untuk menyangkal. Benar dan salah itu nisbi di dunia ini, sampai kita tahu kebenaran hakiki di akhirat kelak. Andaikan kelahiran Anda bertukar rahim dengan saya, apakah sikap Anda akan seperti sekarang?

Bukan dalilmu yang membuatku berubah,
tapi kesantunan akhlaqmu yang ingin kutiru.
Kau tarik aku, maka aku melawan.
Kau rangkul aku, maka aku mengikutimu.

foto: keluarga Setiabudi, 1983

Jonru: Seluruh Perangkat Desa Menolak Otopsi Alm. Suyono?


Jonru - Seluruh Perangkat Desa Menolak Otopsi terhadap Mayat Suyono

Hm.. kok bisa ya? Sungguh aneh!
Dan semakin aneh, tentu makin mencurigakan.

#BubarkanDensus88 !!!

Berikut saya copas status seorang teman mengenai kondisi di desa Suyono:

Rapat belum selesai tapi sudah ada kesimpulan sebagai berikut:

1. Seluruh tokoh masyarakat Rt, Rw, Bpd dan perangkat desa menolak akan dilaksanakannya otopsi.

2. Dan apabila ada pihak yang bersikeras untuk melakukan otopsi maka warga menyuruh untuk dilakukan otopsi di luar Desa Pogung dan jenazahnya tidak boleh dimakamkan di Desa Pogung.

Dan hasil rapat malam ini dibuat surat pernyataan dan ditanda tangani oleh seluruh ketua RT, Rw, Bpd dan perangkat desa.
Hasil rapat malam ini akan langsung disampaikan kepada keluarga alm siyono.

Tindakan cerdas yang semakin membuat yakin Rakyat Indonesia bahwa ada yang TIDAK BERES dalam PENYEBAB KEMATIAN SIYONO.

TERIMA KASIH Pak Kades dan perangkat desa atas KERJASAMANYA.

=========

Sebarkan agar Rakyat Indonesia tahu bagaimana manusia-manusia haram ini mendzalimi warga negara yang tak bersalah bahkan ketika sudah mati sekalipun!!!

Allahumma alaika bi Densus wa BNPT..

(Umaier Khaz)

Tuesday, March 29, 2016

Jonru: Densus88 Harus Dibubarkan!


Jonru - Ternyata Densus88 Memberikan Uang Tutup Mulut Rp 200 Juta Kepada Keluarga Siyono?

Jika ini benar, hm... Densus88 harus DIBUBARKAN !!!
Mereka selama ini ternyata bukan membasmi teroris, tapi membasmi umat Islam!

Saya bahkan punya teman, yang ustadznya ditangkap dan disiksa oleh Densus 88 tanpa alasan yang jelas.

* * *

Inilah Penampakan Uang 2 Gepok yang Diserahkan Istri Siyono di PP Muhammadiyah

SangPencerah.com – Istri almahum Siyono, Suratmi bersama 3 anaknya menemui Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas di Yogyakarta. Suratmi menceritakan kesedihan atas meninggalnya sang suami dan dua gepok uang yang meresahkannya.

“Saya minta bantuan atas perkara suami saya. Kematiannya tidak wajar, saya minta bantuannya,” tutur Suratmi dengan suara terbata-bata.

Pertemuan ini berlangsung di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Jalan Cik Ditiro, Selasa (29/3/2016). Selain PP Muhammadiyah, hadir pula Komisioner Komnas HAM Siane Indriani. Suratmi menggendong anaknya. Wanita bercadar ini mengatakan dia awalnya diajak ke Jakarta oleh beberapa orang untuk menjenguk suami.

Dia diinapkan di sebuah hotel dan diberi kabar suaminya meninggal dunia. Hatinya kalut dan kebingungan. “Saya langsung salat istikharah. Saya bingung,” imbuhnya.

Kemudian datang dua orang perempuan yang diketahui Suratmi bernama Ayu dan Lastri mendatanginya di hotel. Kedua perempuan ini memberikan segepok uang kepada Suratmi sambil memintanya untuk ikhlas dengan kematian suaminya.

“Bu Ayu mengatakan ini sudah takdir, saya harus ikhlas,” kata Suratmi menirukan Ayu.

Busyro kemudian bertanya, “Bu Ayu itu siapa?”

“Saya tidak tahu, dia nggak pakai seragam. Tapi sepertinya polwan,” jawab Suratmi. Suratmi mengaku baru berkenalan dengan Ayu saat bertemu di hotel tersebut.

“Itu uang dari mana, untuk apa?” Busyro kembali bertanya.

“Katanya satu (gepok) untuk biaya pemakaman jenazah, yang satu lagi untuk anak-anak,” jawab Suratmi.

Keberadaan uang yang dibungkus koran dan terlilit lakban cokelat ini membuat Suratmi tidak tenang. Dia semakin bertanya-tanya ada apa di balik kematian suaminya. Bungkusan uang itu tak dibukanya hingga saat ini.

“Ini yang kecil juga lalu mengigau, ‘abah tembak, abah tembak’,” kata Suratmi sambil terisak. (sp/dtk)

Sumber berita: http://sangpencerah.com/2016/03/inilah-penampakan-uang-2-gepok-diserahkan-istri-siyono-pp-muhammadiyah.html

350 Tahun Cuma Omong Kosong!



Eddy Mandiri - Berhentilah berkata bangsa ini pernah dijajah Belanda selama ratusan tahun!

BEBERAPA waktu lalu, saya mengikuti sholat jumat di sebuah masjid dekat Kampus UI. Dalam khotbahnya, beberapa kali sang khatib menyebut bahwa salah satu penyebab umat Islam Indonesia terpuruk adalah karena kita masih belum bisa keluar dari bayang-bayang penjajah yang sudah menguasai bangsa ini selama 350 tahun. Disebut angka itu, tiba-tiba ingatan saya berkunjung ke tahun 1985. Saat itu, saya duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, ketika mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) pertama kali diluncurkan oleh Pemerintah Orde Baru. Di era itulah saya sering sekali mendengar ungkapan para guru bahwa penjajahan di Indonesia berlangsung selama 350 tahun. Hah 350 tahun? Pikir saya. Alangkah lamanya.

Namun tak ada yang protes dengan angka tersebut. Semua orang (termasuk saya) seolah sudah sepakat bahwa Indonesia memang dijajah dalam kurun waktu sebanyak itu. Hingga pada 1991, saat duduk di bangku kelas 1 SMA, saya membaca perdebatan antara Soe Hok Gie dengan salah seorang dosen sejarahnya.

Soe sangat tidak terima Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Mengutip pendapat Profesor G.J. Resink (akademisi UI yang berkebangsaan Belanda), aktivis dan mahasiswa sejarah itu menyebut angka tersebut hanya “dramatisasi politik” Soekarno untuk membakar rakyat Indonesia punya jiwa.

“Dalam kenyataannya, Belanda tak pernah bisa menguasai 100% wilayah Nusantara sampai akhir kekuasaannya,”kata Soe sambil menyebut beberapa pemberontakan rakyat Aceh yang masih berlangsung hingga 1942.

Rahmat Safari, salah seorang teman saya yang sangat menggilai sejarah, bahkan berani menyebut penjajahan Belanda atas Indonesia hanya 4 tahun (1945-1949). Apa sebab? “Sebelum 1945, secara de facto dan de jure, memang Republik Indonesia sudah ada?”katanya malah balik bertanya kepada saya.

Logika historis Rahmat saya pikir-pikir memang ada benarnya juga. Nama Indonesia sendiri baru disebut-sebut di kalangan ilmuwan ketika pada 1850, seorang etnolog berkebangsaan Inggris bernama James Richardson Logan menulis Ethnology of the India Archipelago (dimuat dalam The Journal of Indian Archipelago and East Asian Edisi IV. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Adolf Bastian, seorang etnolog Jerman (1826-1905) lantas menulis sebuah buku berjudul Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel(Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu).

Sebelum 1945, wilayah Indonesia memang dikenal sebagai Hindia Belanda.Artinya India punya Belanda.Itu untuk membedakan dengan Hindia Barat atau India yang punya Inggris. Dua nama itu murni hasil kesepakatan antara bangsa penjajah semata. Dan jauh sebelum ada nama Hindia Belanda,kawasan kita lebih dikenal sebagai Nusantara (artinya diantara pulau-pulau).Isinya terdiri dari berbagai bangsa dan kerajaan seperti Sunda, Bali, Gowa, Pajajaran, Melayu, Andalas, Pagaruyung, Mataram, Banten dan lain sebagainya.

Kembali ke soal angka 350. Rupanya, angka tersebut hulu-hulunya keluar dari mulut salah seorang Gubernur Hindia

Belanda. Namanya Bonifacius Cornelis de Jonge (1931-1936). Ceritanya, pada sekitar pertengahan tahun 1930-an, ia memberikan keterangan ke pers bahwa sebuah Hindia Belanda yang merdeka masih jauh dari kenyataan: “Kami sudah ada di sini sejak hampir 350 tahun yang lalu, dan kami akan tetap di sini sampai 300 tahun kemudian,”ujarnya.

Benarkah apa yang dikatakan De Jonge? Kalaupun itu dihitung sejak kedatangan pertama kali armada Belanda pimpinan Cornelis de Houtman pada 22 Juli 1596 atau Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck pada 1 Mei 1598 ,saya pikir ia tidak salah. Tapi bukankah saat pertama kali mereka datang ke Pelabuhan Banten tujuannya hanya berbisnis semata,bukan melakukan penjajahan? Alih-alih menjajah, mereka bahkan terikat kesepakatan dengan Kerajaan Banten dan justru mempersembahkan upeti kepada Sultan Banten.

Harus diingat pula, setelah berdirinya Maskapai Perdagangan Hindia Timur (VOC) pada 1602 tak serta merta urusan “penguasaan” ekonomi dan politik Belanda atas kawasan Nusantara berlangsung mulus. Berbagai perlawanan terjadi ketika Belanda berniat menganeksasi wilayah kerajaan-kerajaan yang ada saat itu.

Muncullah berbagai perang yang terjadi di berbagai di kawasan Nusantara. Di Jawa Barat muncul seorang Haji Prawatasari yang memimpin secara sporadis perlawanan terhadap VOC (1703-1707), di Sumatera Barat meletus Perang Padri (1821-1837), di Jawa Tengah dan Yogyakarta terjadi Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh I (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907), dan Perang Aceh II (1912-1942).

Praktis hingga 1942, Belanda tidak bisa sepenuhnya menguasai wilayah Nusantara. Di beberapa kawasan seperti Banten, Aceh dan sebagian wilayah Sumatera lainnya, bahkan secara de facto Belanda hanya menguasai kawasan kota semata. Sedangkan kawasan pelosok dan pedalaman, tetap dikendalikan oleh para pejuang lokal. Pendapat tersebut diperkuat oleh sejarawan dari Universitas Padjajaran, Nina Lubis, Menurut Nina, hingga akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, beberapa kerajaan di Bali, dan beberapa kerajaan di Nusa Tenggara Timur, masih mengadakan perjanjian sebagai negara bebas (secara hukum internasional) dengan Belanda.

Jadi masihkan kita menyebut dengan “takjub” di mimbar-mimbar dan kelas-kelas bahwa kita telah dijajah Belanda selama 350 tahun? Kalau saya sih ogah.

sumber: arsipindonesia.com


(sumber)