Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Thursday, June 30, 2016

Arman Dhani: Kapan Nikah?


Kapan Nikah?

Belakangan saya kepikiran ibu, tentang bagaimana ia bertambah tua, bertambah ringkih, beberapa kali sakit tanpa memberi kabar, juga matanya yang semakin kelelahan. Apa yang lebih menggetarkan perasaan ketimbang rasa khawatir pada seseorang yang kamu cintai?

Seperti dua tahun sebelumnya, saya memutuskan untuk tidak merayakan idul fitri dan pulang ke Bondowoso. Barangkali saya merasa takut, takut jika kemudian saya pulang, memandang mata itu saya memutuskan untuk tidak kembali ke Jakarta. Kamu tahu? Dihantui rasa cinta menggebu untuk berbakti sebagai seorang anak dan menjadi seseorang yang bisa diandalkan orang tua.

Tapi saya tahu, ibu saya tidak akan membahas hal remeh semacam itu. Ibu mungkin akan sesegera mungkin mengusir saya kembali ke Jakarta untuk kembali bekerja. Sambil sesekali mengingatkan untuk tidak pernah lupa berdoa dan sholat. Menegur agar menjaga pola makan dan diet tapi menitipkan berbagai panganan seperti dendeng ragi, abon, orek tempe dalam jumlah besar.

Pulang ke rumah saat lebaran tentu menyenangkan. Ini bukan soal libur, ini soal kembali menyigi akar. Menyesap kembali identitas sebagai "orang daerah". Bagi saya mudik bukan soal lebaran, bukan soal merayakan ibadah, bagi saya mudik adalah perkara menemukan lagi hal remeh yang kamu rindukan tanpa sadar. Seperti teman, makanan, jalan, ruang, waktu, juga pemandangan.

Ini sesuatu yang mahal. Bukan, bukan soal jarak dan harga yang mesti dibayar melalui tiket. Kamu tidak bisa memberi harga pada pengalaman dan perasaan. Tapi kita tahu tidak semua hal sentimentil itu menyenangkan. Ia bisa jadi melukai, terutama, jika kamu mengingat hal yang membuatmu sedih. Kematian, perpisahan, juga jejak ingatan masa lalu.

Pulang ke rumah bagi saya bisa jadi upaya menghadapi yang belum selesai. Menjawab pertanyaan yang enggan saya jawab. Juga hal-hal yang menjadi beban. Belakangan ada yang berubah soal menghadapi beban. Terlebih ketika ibu bertanya tentang "kapan menikah?", belakangan saya menganggapnya sebagai ungkapan sayang ketimbang tuntutan.

Ibu makin tua, ia menyadari bahwa mungkin tak akan lagi dapat mengurus anak-anaknya. Ibu saya, yang keriput, dan selalu menangis ketika berdoa itu, paling gemar merawat anak-anaknya. Ia akan memasak, mencuci, mempersiapkan pakaian untuk anaknya dengan suka cita. Mengomel? Tentu saja.

Pernah saya mencuci baju, tidak bersih benar, dengan muntab ibu mencuci ulang, menyetrikanya, mengomel dari pagi hingga siang. Ibu adalah penguasa rumah. Oh kau boleh mengaku feminis, mengaku mendukung emansipasi, mendukung kesetaraan gender, tapi bagi ibu pekerjaan-pekerjaan itu adalah hidupnya, cintanya, dan seluruh jagat kecil yang ia lakukan sejak kanak-kanak.

Ibu akan marah besar jika kami makan di luar. "Dikira aku tidak bisa masak apa?" begitu terus. Kami anak-anaknya pernah merasakan ini, jadi jika kami ingin makan sesuatu, mesti sembunyi-sembunyi. Bukan, bukan karena ibu galak, kukira karena saya dan kakak yang lain tak ingin ibu terluka.

"Kamu kapan nikah?" katanya lagi. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Ini bukan tuntutan, ini adalah pernyataan sayang. Pertanyaan ini kerap diikuti dengan kata-kata lain seperti. "Carilah istri yang bisa memasak, yang bisa mengurus anak, yang bisa anteng di rumah, yang bisa merawat kamu," katanya.

Bu, saya sedang mencari istri, dan bukan pembantu, bahkan jika punya pembantu, tak akan saya suruh dia bekerja dengan beban berlebihan. Tapi tentu kalian tahu, saya tak mungkin menjawab demikian. Semua saya simpan dalam kepala saja. Saya tak tega mendebat ibu, ia sudah kepalang menderita sembilan bulan merawat saya untuk didebat dengan ilmu pengetahuan yang saya dapat atas biayanya.

Lain hari ibu menawarkan hal yang lain. "Carilah istri yang berjilbab, yang menjaga aurat, yang pintar mengaji, yang ahli ibadah dan bisa membawamu ke surga," katanya.

Bagaimana pula saya mencari istri yang demikian baik? saya sholat saja kerap tidak, mengaji saja tersendat, bertato pulak. Mana ada perempuan demikian baik mau padaku? Jika ada pun tak mungkin sudi menengok, dilirik saja sudah bagus.

Ini juga tak saya utarakan. Ibu bahkan tak tahu saya punya tato.

Saya ingin pulang dan ditanyai kapan nikah. Saya mau ibuku, mungkin juga bu Supik, perempuan yang merawat saya sejak kecil bertanya tentang dengan siapa saya akan menikah. Perempuan hebat mana yang saya cintai. Mungkin saya akan menceritakan kamu, mungkin juga tidak. Mungkin saya hanya ingin memeluk ibu, Bu Supik dan juga keponakan-keponakan saya yang lain.

Saya terlalu bahagia dan rindu untuk dipusingkan negativitas, kepahitan, dan juga rasa marah untuk merespon pertanyaan kapan nikah dengan jawaban ketus. Mungkin dulu saya akan marah, tapi tidak sekarang, tidak hari ini. Saya tahu mereka mencintai saya, ibu, paman, juga saudara tua yang brengsek itu juga akan bertanya kapan menikah.

Dulu saya pikir pertanyaan-pertanyaan klise yang diajukan di ruang tengah ketika lebaran itu adalah bentuk invasi ruang privat. Tapi tahu apa ibu saya soal ruang privat? Paman dan bibi saya? Mereka orang-orang sederhana yang tidak paham konsep-konsep besar peradaban modern. Berdebat dengan isi kepala yang tinggi tidak berguna di hadapan orang-orang ini.

Bertahun lalu, ketika saya merasa gagah dengan isi kepala saya, saya pernah bedebat tentang banyak hal. Tentang bahwa orang tua tak punya hak pada anak, kami ini mahluk merdeka, bahwa kami ini berhak menentukan nasib sendiri, bahwa kami tak harus tunduk pada peraturan, tata krama, dan nilai-nilai mereka. Bukan merasa hebat, saya hanya menyakiti orang orang yang saya cintai.

Ibu menangis. Saya tak pernah merasa seburuk itu dalam hidup. Buat apa ilmu tinggi jika hanya untuk menyakiti?

Saat bertanya mereka mungkin hanya penasaran. Bibi saya mungkin akan sibuk bertanya mengapa saya tidak juga menikah, padahal sudah mapan. Paman saya mungkin akan bertanya ada pekerjaan apa di Jakarta buat anaknya yang baru lulus SMK. Mengapa mesti menyakiti mereka dengan kata-kata kasar? Kamu tidak pernah tua, tapi mereka pernah muda, kebijaksanaanmu barangkali tidak ada seujung jembut mereka.

Oh tentu ada saudara brengsek. Yang gemar bergunjing, menyindir, dan memaki. Kemudian yang jadi pertanyaan, perlukah berinteraksi dengan mereka? Jika tidak mengapa merusak hari raya dengan menghadapi kemurungan? Perlukah merusak hubungan hanya karena sebuah pertanyaan? Kalian punya pilihan, menjawab dengan baik, atau bahkan tidak perlu dibahas sama sekali.

Tapi saya tahu, ada orang-orang baik yang bertanya dengan perasaan kasih sayang tulus soal kapan saya menikah. Saya tidak perlu unjuk bagasi kepala dengan congkak hanya untuk menjawab itu. Untuk ibu, bu supik, adik, dan saudara-saudara yang saya sayang. Saya akan menjawab dengan pelukan. Sambil berbisik.

"Nanti, kalau sudah move on."

Monday, April 4, 2016

Fahri Hamzah: Jika Kita Terpaksa Pergi Aku Akan Menjadi yang Terakhir


Fahri Hamzah - malam ini, kisah ku mengguncang mu..
kau merasa kita seperti akan berpisah..

kau mendengar seolah aku akan pergi
dan tak akan pernah kembali..

aku melihatmu terpukul.. bersedih..
kata-kata mu tertahan.. terbata-bata..

kau seperti sulit mengungkap perasaan..
bulir-bulir hangat itu mulai mengalir..

aku ingin menenangkanmu sahabat…
jangan bersedih.. lerai airmatamu..

aku ingin mencintaimu tetap seperti dulu..
seperti pelepah dan bulir-bulir..
seperti embun dan ilalang pagi yang dingin..

kau bertanya,
inikah takdir kita dan di sinikah ia berakhir?

aku jawab, tidak..
inilah perjalanan kita dan ia akan terus mengisi hari-hari..

perjalanan kita kaya, perjalanan kita penuh romantika..
aku takkan lupa di mana kau berada.. pada hari ia bermula..

kita disebut ikhwan muda, dan kita duduk bersama..
dalam halaqah kita.. di halaman kampus kita.

kita menghafal alquran..
kita mendalami sunnah dan kehidupan tauladan..

kita mendengar dan bertukar fikiran..
atas risalah akhir zaman.

kita membaca tanda-tanda zaman..
kita membahas dialektika kehidupan..
teori sosial dan sastra perubahan..

hingga ia dianggap sempurna menjadi bekalan..
dan kita terjun ke lapangan..

kini kita telah jauh.. berada di sini..
setelah setahap kesempurnaan..

kita memulai, kita meniti..
kita terus belajar menjadi insan..
menjadi yang datang untuk perbaikan..

maka aku tidak maksudkan ini..
kecuali untuk perbaikan..

jangan bersedih sahabat..
jangan takut dengan jarak..
dunia ini bulat..

perputaran adalah hukum alam yang bergantian..
ditiup angin.. diseret arus pasang..

aku berjanji takkan pergi..
jika kita terpaksa pergi, aku akan menjadi yang terakhir..

aku akan bertahan..
ini rumah ku.. ini rumahmu.. ini rumah kita..

seberapa kuat aku akan menjaga ini semua.. sekuat kau.. sekuat kita semua..

tetapi ini bukan sengketa..
ini cinta.. inilah cara kita saling menjaga..

tetapi jika ia adalah benci..
terbakarlah kita semua jadi debu..

aku berlindung kepada Allah dari benci yang membakar hati..
aku tidak punya kehendak lain kecuali kebaikan dan perbaikan..

hanya itu..
bersabarlah kawanku.. aku mendoakanmu..

@Fahrihamzah, Senin malam (4/4/2016)

(sumber)

Dahnil Anzar Simanjuntak: Opini Kepolisian tidak Didasari Pemahaman Hukum yang Baik (Kasus Siyono)


Dahnil Anzar Simanjuntak - Brigjen Agus Rianto mengatakan di Harian Republika, Senin 4/04/16 Hal 9, Bahwa;
"Pertama. Polri telah melaksanakan autopsi dan hasilnya menunjukkan Siyono meninggal Karena Luka akibat benturan di Kepala.

"Kedua. Brigjen Agus menyebutkan Bahwa Luka itu Timbul Karena Siyono melakukan perlawanan terhadap anggota Densus 88 saat didalam mobil"

"Ketiga. selama ini Polri sudah melaksanakan penanganan Siyono sesuai Prosesur hukum, tidak Ada yang ditutup-tutupi. Polri sudah menjelaskan semua. jadi, Masyarakat jangan sampai membuat-buat Opini."

Saya ingin menjawab pernyataan tersebut diatas;

Pertama. Menurut 9 Dokter Tim Forensik Muhammadiyah dan 1 Dokter Forensik yg diutus Polda. Kondisi Jenazah menunjukkan Bahwa Jenazah Siyono belum pernah dilakukan otopsi sama sekali. Jadi, fakta ilmiah outopsi menunjukkan tdk Ada tanda-tanda Jenazah pernah dilakukan otopsi (Seperti dijelaskan Dokter Gatot, Ketua Tim Forensik yg juga didampingi Dokter forensik dari Polda pada saat konpress didepan Rumah bu Suratmi setelah proses otopsi selesai). Kami tidak paham otopsi macam apa yang dilakukan Polisi Versi Brigjen agus, yang menyatakan Bahwa kematian Siyono disebabkan Karena benturan dikepala. Padahal, 9 Tim Forensik Muhammadiyah ditambah 1 orang Dokter dari Polri, menemukan patah Tulang dibeberapa bagian tubuh Seperti dada dan bagian lain yang diakibatkan benda tumpul, tapi Karena tingginya Etika dan profesionalitas ketika ditanya wartawan Apakah itu penyebab kematian Siyono, Dokter Gatot menyatakan belum kami simpulkan menunggu Uji Mikroskopis atau Uji Lab, dan Akan disampaikan nanti setelah Uji lab.

Kedua. Berkaitan Bahwa Luka diperoleh Karena Siyono melakukan perlawanan, Dokter Forensik Muhammadiyah telah menemukan faktanya, dan Akan menyampaikan secara lengkap setelah Uji Laboratorium.

Ketiga. Justru dari keterangan diatas kelihatan Brigjen Agus atas Nama kepolisian yang beropini tidak didasari pemahaman hukum yang baik, merujuk kepada keterangan Siane Indriani, Anggota Komnas HAM ketika kami berdebat dengan Kapolres dilokasi TKP, Komnas HAM yang meminta Muhammadiyah Untuk membantu mengungkap fakta ini punya hak penyelidikan,(UU 39/99 pasal 89 ayat 3 Untuk melaksanakan fungsi komnas ham dalam pemantauan sebagaimana dimaksud dalam pasal 76 komnas ham bertugas dan berwenang melakukan butir (b) penyelidikan dan pemeriksaan terhadap peristiwa yang timbul dalam masyarakat yang berdasarkan sifat atau lingkupnya patut diduga terdapat pelanggaran hak asasi manusia.),

artinya sampai pada proses pencairan fakta melalui otopsi, nah apa yang dilakukan Muhammadiyah melalui outopsi atas permintaan Komnas HAM bukan opini tetapi berusaha menemukan fakta melalui Usaha ilmiah, justru Polri yang berusaha membangun opini Tanpa dasar pijakan ilmiah Seperti bisa menyebut kematian Siyono akibat benturan dikepala Padahal fakta ilmiah menunjukkan tdk pernah Ada otopsi sebelumnya Seperti yang disampaikan Dokter Gatot yang tidak dibantah oleh Dokter forensik dari Polri sendiri.

Mari kita Bantu Polisi menjadi lebih Profesional dan menghargai hukum dan melindungi hak hidup warga negaranya siapa pun Mereka. Ini saatnya kita Bantu Polisi berubah menjadi lebih baik melalui membantu Bu Suratmi istri Almarhum Siyono mencari keadilan.

Terimakasih
Dahnil Anzar Simanjuntak

Sunday, April 3, 2016

Jonru: Berbahagialah Fahri Hamzah


Jonru - Salah satu tugas seorang muslim adalah BERDAKWAH. Jadi, siapapun Anda, maka Anda adalah pendakwah, selama agama Anda masih Islam.

Kita berdakwah bukan karena kita anggota NU, bukan karena kita anggota Muhammaddiyah, bukan karena kita pengurus ormas Islam, bukan karena kita kader PKS, bukan karena kita anggota DPR fraksi PKS.

Kita berdakwah semata-mata karena kita Islam. Itu saja. Titik.

Jadi walau Anda dipecat dari jabatan di partai atau ormas tertentu, walau Anda diberhentikan dari organisasi, parpol, atau ormas tertentu, maka IT'S NOT A BIG DEAL. Itu hal yang sangat biasa.

Bagi seorang MUSLIM SEJATI, jabatan adalah ujian, sebab tanggung jawabnya sangat besar. Jika salah dalam menjalankan amanah, maka balasannya adalah API NERAKA.

Karena itu, seorang MUSLIM SEJATI tak pernah haus kekuasaan. Tak pernah minta jabatan. Ketika diberi amanah untuk menjadi pemimpin, dia menganggap itu sebagai musibah, sebagai ujian berat yang pertanggungjawabannya sangatlah berat.

Dan ketika seorang MUSLIM SEJATI dipecat dari jabatannya, maka sesungguhnya itu merupakan KARUNIA yang sangat besar. Sebab ia kini terbebas dari tanggung jawab dan beban yang sangat berat.

Justru, terbebasnya seorang MUSLIM SEJATI dari tanggung jawab tersebut, akan membuat dia lebih leluasa dalam bergerak. Ia tetap berdakwah seperti biasa, membela agama Allah.

Namun kini, cara dan sarananya saja yang berbeda.

Saya percaya, Fahri Hamzah adalah seorang MUSLIM SEJATI. Saya justru mengucapkan SELAMAT karena beliau kini terbebas dari beban dan tanggung jawab yang sangat berat.

Tak perlu mengasihani Fahri Hamzah. Kita justru harus iri padanya, karena beliau kini terbebas dari tanggung jawab yang sangat besar. Saya yakin, beliau kini SANGAT BAHAGIA.

Yang perlu dikasihani adalah diri kita sendiri, kita yang masih menganggap bahwa jabatan duniawi adalah segalanya, seolah-olah dunia sudah berakhir jika jabatan hilang dari diri kita.

Jakarta, 4 April 2016

Saturday, April 2, 2016

Salim A. Fillah: Jalan Perubahan


Salim A. Fillah - Bahkan lebih dari soal tuduhan pendusta, penyihir, dukun, serta gila; bahkan lebih dari soal dikejar-kejar lalu dilempari batu sambil diteriaki hina, ruku' lalu dijerat lehernya, sujud lalu diinjak kepalanya serta dituangkan bebusuk isi jeroan unta ke punggungnya; bahkan lebih dari soal diboikot, dianiaya, diusir, dan dibunuhi pengikutnya; saya masih terngungun-ngungun membayangkan kesabaran lelaki agung itu.

Setiap hari dia memasuki Masjidil Haram melalui Babussalaam. Dia akan berdiri di belakang rukun Yamani, menghadapkan wajah ke Al Aqsha yang jauh di utara sekaligus Baitul 'Atiq di hadapannya, berdiri melafalkan ayat-ayat Rabbnya, tunduk dan pasrah pada Pencipta Alam Semesta. Di saat lain dia seru-seru kaumnya, dia tunaikan amanat Rabbnya, dia sampaikan RisalahNya.

Mari membayangkan betapa sesak dada Rasulullah ï·º dan para sahabat ketika harus shalat, membaca Al Quran, dan mempelajari Islam di dekat Ka’bah, di bawah bebayang bentuk-bentuk raksasa berhala-berhala yang menistainya.

Tiga belas tahun.

Latta, 'Uzza, Manat, Hubal dan nama-nama lainnya, tak kurang dari 360 patung dalam selingkar 360 derajat kelilingnya, dari yang dipahat dengan halus dan berseni hingga yang kasar tak beraturan, sesembahan berbagai kabilah itu ‘setia’ menunggui mereka yang berjuang untuk mentauhidkan Allah.

Tapi Rasulullah ï·º dan para sahabatnya tidak menghancurkannya saat itu, sebab mereka memahami bahwa yang mereka tempuh adalah jalan dakwah. Yang hendak mereka ubah adalah hati dan pemahaman, bukan prasarana dan bangunan.

Tanpa perubahan hati, berhala yang dihancurkan hari ini hanya akan dibangun jauh lebih megah di esok hari. Tanpa perubahan pemahaman, wadah-wadah kedurhakaan yang dibumihanguskan hari ini akan mendapatkan simpati dan pemodal yang jauh lebih besar tak lama lagi.

Maka bahkan Rasulullah ï·º terus bersabar hingga Fathu Makkah, tepat 21 tahun setelah dakwah dimulai. Di hari itulah kebenaran datang dan kebatilan lenyap. Di hari itulah patung-patung kemusyrikan penista Ka’bah rubuh dan remuk.

Tangan yang menghancurkan berhala-berhala itu bukan hanya tangan Rasulullah ï·º dan para sahabatnya, melainkan juga tangan-tangan yang petang sehari sebelumnya masih mengelus patung-patung itu dengan ta’zhim, menaburkan dinar dan dirham di kakinya, serta menuangkan wewangian kepadanya.

Ini semua karena hati, akal, dan jiwa yang berubah.

Jalan dakwah adalah jalan yang panjang tempuhannya. Panjang sebab bukan kayu atau batu, ladang atau hutan, dan gubug atau istana yang hendak dibongkar atau dibangunnya. Panjang karena sasaran utamanya adalah perubahan hati, perbaikan jiwa, pemulihan manusia, dan penyempurnaan akhlaq yang mulia.

Di negeri ini, betapa kita menginginkan perubahan dengan segera, tapi kita lupa apa yang harus diubah.

Ada pula di antara kita yang sangat tahu apa yang harus diubah dan tegas bersemboyan, "Rasulullah memulai dakwah dengan tauhid, dengan 'aqidah." Tapi yang kita lakukan lalu hanya mengadakan kajian tentang 'aqidah. Sedangkan di hari pertamanya masuk Islam, Abu Bakr menyerahkan 40.000 dirham pada Sang Nabi.

Tentu bukan hanya untuk menyelenggarakan kajian. Sebab dakwah ini adalah jalan mendaki lagi sulit. Tahukah kita apa jalan yang menanjak lagi sukar itu? Membebaskan yang teperbudak, membagi makan pada hari susah dan sesak, pada yatim yang berkerabat, hingga orang miskin yang amat melarat.

"..Kemudian adalah mereka itu termasuk orang-orang yang saling berwasiat tentang kesabaran, dan saling berwasiat tentang kasih sayang.." (QS Al Balad [90]: 17)

Salim A. Fillah: Bersama Sesama


Salim A. Fillah - "Dia yang mengira dapat selamat dari tajamnya lisan sesama", ujar Imam Asy Syafi'i suatu kali, "Barangkali telah rehat akalnya. Bagaimana bisa? Sedang Allah Yang Maha Sempurna tetap ada yang lancang berkata, 'Dialah yang ketiga daripada tiga.' Bagaimana bisa? Sedang Al Amin sang Mushthafa, manusia paling sempurna, ada saja yang tega mengatainya, 'Si Tukang Sihir Gila'.

"Maka ridha manusia", demikian tegas beliau pada suatu kala, "Adalah tujuan yang mustahil tergapai. Cukuplah kita bersemangat dalam apa-apa yang menjadi keridhaanNya, lalu istiqamah padanya."

Suatu saat Imam Ahmad ditanya, "Mengapa pribadi sebaik, semulia, dan sedermawan Asy Syafi'i, masih ada saja yang dengki padanya?"

"Hanya orang yang tiada dianugerahi nikmat sama sekali", sahut beliau sambil tersenyum, "Yang takkan pernah jadi sasaran dengki. Bagaimana Imam kita tak didengki, padahal pada dirinya berhimpun keluhuran nasab, kefasihan lisan, ketinggian ilmu, pesona penampilan, cinta dari manusia, dan penghormatan manusia?"

Benarlah Rasulullah ï·º, betapa lebih baik hidup bersama sesama sembari bersabar atas tiap gangguannya daripada tinggal di puncak gunung tanpa bergaul dengan siapapun.

Maafkan, lapangkan dada. Karena manfaat pertama dari maaf bukanlah untuk yang dimaafkan, melainkan damainya hati sang pemaaf. Dendam adalah menenggak racun ke mulut sendiri, lalu berharap orang lain yang mati.

Tapi janganlah kita keliru tangkap ketika ada yang menghadiahkan kata-kata tak mengenakkan. Sering kali kita mengiranya sebagai kedengkian sesama, padahal justru ia adalah cinta, kepedulian, dan ketulusan yang berhimpun dalam nasehat yang berjuta rasa.

Nasehat itu permata. Baik diselipkan ke saku, digenggamkan ke tangan, ataupun ditimpukkan ke muka, ia tetaplah permata. Ambil permatanya. Sebab ia jauh lebih mudah daripada mencarinya sendiri ke kedalaman bumi.

Kalau kita merasa sakit tiap kali diberi nasehat, mungkin justru hati kita yang perlu dirawat inap.

Ah iya. Sebenarnya semua nikmat akan mengundang rasa dengki, kecuali nikmat menjadi pribadi rendah hati. Dan sebenarnya semua bencana akan mengundang rasa iba, kecuali bencana menjadi orang sombong lagi menepuk dada.

Friday, April 1, 2016

Nandang Burhanudin: Yang Tak Punya Niat Korupsi Malah dipenjara 18 Tahun


Nandang Burhanudin - Yang tidak ada NIAT korupsi dan tidak merugikan negara sepeserpun, kini dipenjara 18 tahun dan dicabut hak politiknya.

Coba yang kemarin teriak-teriak ke LHI, mana teriakannya untuk AHOK dan Gubernur yang menyetujui pengadaan bus Tranjakarta?

Ridwan Kamil: Salam Damai untuk Jakmania


Ridwan Kamil - Hari ini, saya kulonuwon ke ketua Jakmania, Bang Richard Achmad, terkait rencana bobotoh Persib hadir Hari Minggu di final Piala Bhayangkara. Sebagai tamu kita harus hormat pada tuan rumah. Salam damai selalu. Karena sepakbola sebenarnya mengajarkan berkompetisi dalam perdamaian bukan permusuhan. *Say no to posting2 yang provokatif. Jadilah supporter santun dan tertib.

Thursday, March 31, 2016

Jonru: Ternyata Kita Memang Barisan Sakit Hati

Jonru - Barusan saya nemu gambar ini di status seorang teman. Saya langsung menertawakan diri sendiri. Ternyata BENAR SEKALI tuduhan para haters selama ini. Kita memang BARISAN SAKIT HATI.

Kita sakit hati terhadap pemerintah yang menipu rakyat. Kita sakit hati terhadap hukum yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Kita sakit hati terhadap ketidakadilan yang makin merajalela.

Kita memang barisan sakit hati.

Namun semoga ini adalah sakit hati yang menyembuhkan. Semoga ini adalah sakit hati yang makin mendekatkan kita pada Allah. Sebab ketika kita tak punya daya untuk melawan kesewenang-wenangan, setidaknya hati kita melawan. Setidaknya hati kita tidak setuju terhadap ketidakadilan yang terjadi.

Alhamdulillah, bersyukurlah karena kita masih waras.

Apa Kabar Sumber Waras? Semoga yang korupsi di sana masih waras hingga hari ini.

Wednesday, March 30, 2016

Sandiaga Salahuddin Uno: Entrepreneurship adalah Pola Pikir, Bukan Profesi


Sandiaga Salahuddin Uno - Entrepreneurship itu adalah mindset/pola pikir, bukan sebuah profesi. Jadi mindset itu bisa nempel pada siapa saja, baik karyawan, guru, hingga tentara.

Salah satu yang contoh mindset entrepreneur ini ada di rekan saya. Meski badannya kecil, jangan pernah remehkan semangatnya.

Mas Yoyok 'nekat' pensiun dini dari dinas militernya yang cemerlang, karena ingin menjadi pedagang. Keputusan yang tidak disesalinya.

Meskipun usianya lebih muda, ilmu dan pengalamannya di birokrasi sangat baik. Mas Yoyok ini peraih penghargaan "Bung Hatta Anti Corruption Award tahun 2015".

Sebuah prestasi tertinggi di tanah air bagi pemimpin atau individu yang benar-benar menerapkan azas bersih dan akuntable dalam menjalankan pekerjaannya.

Figurnya sangat mengayomi masyarakat. Rumah dinasnya tidak ditutup pagarnya, supaya warga bisa datang kapan saja bila memerlukannya.

Yoyok Riyo Sudibyo nama lengkapnya. Bupati dari Batang, Jawa Tengah.

Arham Rasyid: Melihat Sisi Lain Meledaknya Granat UHO



Arham Rasyid - Sekadar melihat dari sisi lain.

Terlepas dari konyolnya penggunaan bahan peledak asli dalam simulasi, siapa yang salah, serta berbagai tudingan miring kinerja yg tidak profesional, ada yang luput dari bahasan banyak media soal tragedi yang menimpa kampus gw kemarin.

Menurut teman wartawan yang standby di TKP dan mengumpulkan info dari beberapa saksi mata serta melihat posisi jenazah, polisi yg jadi korban itu sudah melakukan hal heroik yg patut diapresiasi. Ia refleks menelungkupkan badan menghadap granat yg jatuh menggelinding, ketimbang memilih melompat, lari, atau menjauh. Jika saja itu gak dilakukan, granat nanas dengan daya ledak seperti itu gak mungkin hanya menewaskan empat orang termasuk dirinya di antara banyaknya peserta simulasi dalam ruangan.

Aksi yg sungguh gak sepadan dibalas dengan cemoohan.
Duka mendalam untuk korban. Semoga keluarga diberi ketabahan.

Jaya Setiabudi: Keluargaku Dulu China Kafir, Seperti yang Kau Teriakkan!



Jaya Setiabudi - KELUARGAKU dulu CHINA KAFIR, Seperti Kau Sering Teriakkan..!

Tak ada yang bisa memilih, kita akan lahir di rahim siapa, berkulit apa, dan dimana. Saya, 7 bersaudara:

6 Muslim, 1 Nasrani.
5 orang menikah dengan ‘pribumi’.
Ayah masuk Islam di usia 73, setahun sebelum meninggal.
Ibu masuk Islam tahun lalu, di usia 79.
Ayah dan Ibu suku Tionghoa atau Anda sering menyebut CHINA.

Saya dan keluarga tak pernah teriak, “Si Kafir itu…” kepada siapapun. Kenapa?

Mau nyimak cerita saya?

Ayah saya adalah sosok nasionalis dan idealis tulen yang saya kenal. Cita-citanya menjadi ABRI tak terpenuhi, karena orang tua tak mengijinkan. Kakak pertama saya melanjutkan cita-cita itu sebagai ABRI. Kakak ketiga gagal menjadi ABRI, karena mata sedikit minus.

Jika ditanya, “Papah gak pengin jalan-jalan keluar negeri?”. Jawabnya, “Ngapain? Indonesia aja bagus, gak habis keliling Indonesia”.

18 tahun kerja di bank swasta, dengan prestasi terakhir menaikkan revenue perusahaan 20 kali lipat dalam 5 tahun menjabat. ‘Dipaksa’ mengundurkan diri karena membela seorang karyawan baru yang ‘pribumi’, yang akan digeser oleh titipan direksi yang Tionghoa.

Kemudian beliau melanjutkan kerja di usia 50 an, sebagai manajer keuangan di suatu perkebunan di Lampung. Percakapan yang paling saya ingat saat berkunjung kesana, “Ya’ (panggilan saya), coba lihat, orang-orang (buruh) itu dibayar dibawah angka kebutuhannya (UMR). Kalau mereka punya anak 3 atau lebih, gak akan cukup untuk hidup, maka mereka akan ‘maling’. Suatu saat, kalau kamu jadi bos, jangan pernah bayar karyawanmu dibawah angka kebutuhannya.”

5 tahun bekerja sebagai manajer keuangan, membuat ayah saya dikeluarkan, karena membongkar sindikat koruptor yang melibatkan adik pemilik perusahaan. Di malam terakhir di Lampung, saya mendampingi dan mendengar ta’mir (pengurus) masjid setempat berkata, “Kami sangat kehilangan Pak Untung (ayah saya). Selama Pak Untung disini, ibadah kami, Bapak permudah. Pak Untung sudah seperti orang tua kami.”, air mata saya pun berlinang. Saat itu ayah saya belum memiliki agama, masih Kong Hu Cu (tradisi).

Di usia 55 tahun lebih, ayah melanjutkan bekerja di Purbalingga. Memilih tinggal di rumah penduduk dan mengembalikan fasilitas mobil sedan. Saya pun bertanya, “Kenapa papah balikin mobil itu? Kan bisa dipakai buat transportasi?”. Beliau menjawab, “Gak ahh, malu. Lha wong mereka (buruh) masih dibayar dibawah UMR, koq papah orang baru datang, udah pakai mobil mewah. Gimana omongan papah akan didengar mereka?”.

Akankah Anda mengatakan “China Kafir” kepada ayah saya?

Sekarang kisah saya..

Di usia 7 tahun, sejak pindah ke rumah yang ketiga, kami tinggal di lokasi yang berdekatan dengan kampung di kota Semarang. Sungguh kaget, saat keluar rumah, anak kampung setempat berteriak, “CHINO..!!”, dan langsung mengejar kemudian memukuli saya bertubi-tubi. Bosan melarikan diri terus, saya mulai melawan. Mau gak mau belajar berkelahi.

Saat SD, kami sekeluarga disekolahkan di SD Katholik, alasan ayah saya, karena disiplinnya bagus. Namun ayah saya ingin anak-anaknya berbaur, maka saat SMP, kami semua masuk ke SMP negeri. Dimana saat itu hanya 2 orang ‘keturunan’ per angkatan. Kami tak pernah merasa sebagai seorang ‘keturunan’. Ayah kami mendidik kami anti rasialis. Hal itu dibuktikan, ayah saya mengasuh seorang suku Bali, kuliah dan tinggal bersama kami selama 8 tahun.

Sungguh kaget, saat kawan-kawan di SMP berteriak, “CHINO..!”. Dan saya pun balas berteriak, “CHINO MATAMUU..!”. Perkelahian pun sering terjadi.

Sejarah masuk Islam

Karena di sekolah negeri, pelajaran ‘default’ agama adalah Islam, kakak pertama saya mempelajari dan tertarik untuk memeluk Islam saat kelas 2 SMP. Kami, adiknya, satu-persatu masuk Islam saat masuk SMP, kecuali kakak perempuan saya. Tentu saja ayah dan ibu saya belum juga.

Lulus kuliah, saya merantau ke Batam dan berjumpa dengan istri saya, yang saat itu beragama nasrani. Kenapa istri saya mau masuk Islam? Inilah perkataannya, “Aku dulu sama sekali ANTIPATI dengan orang Islam, karena orang-orang Islam yang kukenal, KASAR dan RASIALIS. Waktu ketemu kamu dan kenal kawan-kawanmu (yang muslim), baru aku melihat bahwa Islam itu damai”.

Kakak kami tertua tak pernah meminta kami mengikutinya masuk Islam. Saya pun tertarik masuk Islam di usia 11 tahun, saat SD, karena melihat kakak-kakak saya sholat. Begitu juga, ayah dan ibu saya, tak ada keterpaksaan masuk Islam. Saya meyakini, agama itu adalah akhlaq yang harus ditunjukkan, bukan dalil yang digemborkan.

Seandainya, ayah saya mencalonkan menjadi gubernur, saat sebelum masuk Islam, maka saya akan tetap memilih beliau, karena saya tahu, beliau adalah sosok pemimpin yang bijak.

Anda mungkin sudah menebak arah saya kemana. Ya, benar dan mungkin salah. Saya tak memihak Ahok, karena saya tak mengenal beliau dan saya tahu politik terlalu rumit untuk dipahami. Jika pun saya ber KTP Jakarta, maka saya akan memilih Bang Sandiaga Uno, karena beliau adalah mentor saya dan saya ‘lebih’ mengenal beliau. Tidak ada jaminan akan lebih baik dari Ahok.

Poin saya adalah..

Saya pernah KAFIR dan saya tak suka disebut KAFIR, juga CHINA.
Ayah, ibu, kakak, istri saya pernah KAFIR, dan mereka tak suka disebut KAFIR, juga CHINA.
Maka saya tak akan menggunakan kata-kata itu untuk Ahok atau siapapun.

Memaki dan menghujat tak membuat Islam lebih tinggi, justru Anda telah merendahkan Islam dan memecah belah bangsa ini. Kalau Anda yakin Islam “rahmatan lil ‘alamiin”, tunjukkan saja dengan akhlaq, bukan dengan beribu dalil. Hewan dan tumbuhan saja harus kita sayangi, apalagi manusia. Kalau Anda yakin (dan saya yakin), masih banyak pemimpin muslim yang pantas, tunjukkan saja siapa mereka dan apa prestasinya untuk umat.

Bagi Anda suku Tionghoa..

Kita sudah belajar pahitnya jaman RASIALIS. Jangan Anda mempertahankan rasialis Anda, dengan memilih Ahok karena SUKU atau AGAMA. Pilihlah pemimpin yang adil, siapapun itu. Terbukti yang membebaskan kita dari rasialisme bukanlah Soeharto, namun seorang Kyai bernama Gusdur.

Bagi yang tak setuju..

Saya tahu perdamaian adalah hal yang mustahil, karena selalu akan ada yang berdalih dengan dalil untuk menyangkal. Benar dan salah itu nisbi di dunia ini, sampai kita tahu kebenaran hakiki di akhirat kelak. Andaikan kelahiran Anda bertukar rahim dengan saya, apakah sikap Anda akan seperti sekarang?

Bukan dalilmu yang membuatku berubah,
tapi kesantunan akhlaqmu yang ingin kutiru.
Kau tarik aku, maka aku melawan.
Kau rangkul aku, maka aku mengikutimu.

foto: keluarga Setiabudi, 1983

Jonru: Seluruh Perangkat Desa Menolak Otopsi Alm. Suyono?


Jonru - Seluruh Perangkat Desa Menolak Otopsi terhadap Mayat Suyono

Hm.. kok bisa ya? Sungguh aneh!
Dan semakin aneh, tentu makin mencurigakan.

#BubarkanDensus88 !!!

Berikut saya copas status seorang teman mengenai kondisi di desa Suyono:

Rapat belum selesai tapi sudah ada kesimpulan sebagai berikut:

1. Seluruh tokoh masyarakat Rt, Rw, Bpd dan perangkat desa menolak akan dilaksanakannya otopsi.

2. Dan apabila ada pihak yang bersikeras untuk melakukan otopsi maka warga menyuruh untuk dilakukan otopsi di luar Desa Pogung dan jenazahnya tidak boleh dimakamkan di Desa Pogung.

Dan hasil rapat malam ini dibuat surat pernyataan dan ditanda tangani oleh seluruh ketua RT, Rw, Bpd dan perangkat desa.
Hasil rapat malam ini akan langsung disampaikan kepada keluarga alm siyono.

Tindakan cerdas yang semakin membuat yakin Rakyat Indonesia bahwa ada yang TIDAK BERES dalam PENYEBAB KEMATIAN SIYONO.

TERIMA KASIH Pak Kades dan perangkat desa atas KERJASAMANYA.

=========

Sebarkan agar Rakyat Indonesia tahu bagaimana manusia-manusia haram ini mendzalimi warga negara yang tak bersalah bahkan ketika sudah mati sekalipun!!!

Allahumma alaika bi Densus wa BNPT..

(Umaier Khaz)

Tuesday, March 29, 2016

Atalia Praratya: Alangkah Indahnya Hidup Saling Memaafkan




Atalia Praratya - Selamat pagi semuaaa...

Kemarin seorang teman bilang begini,
"Rasanya tanggal tua kali ini terasa nyaman ya.., penuh nuansa maaf memaafkan.."

Pagi2 saya sudah ke ATM.. ATM pun meminta maaf, "maaf saldo anda tidak mencukupi"

Saya pun memaafkan.

Saya mencoba menelpon.....
Operator pun meminta maaf, "Maaf pulsa anda tdk mencukupi"

Saya pun ikhlas memaafkan...

Ahhh...alangkah indahnya hidup saling maaf-memaafkan ...😄😀

@YA

#serasaLebaran
#lol


(sumber)

Jonru: Densus88 Harus Dibubarkan!


Jonru - Ternyata Densus88 Memberikan Uang Tutup Mulut Rp 200 Juta Kepada Keluarga Siyono?

Jika ini benar, hm... Densus88 harus DIBUBARKAN !!!
Mereka selama ini ternyata bukan membasmi teroris, tapi membasmi umat Islam!

Saya bahkan punya teman, yang ustadznya ditangkap dan disiksa oleh Densus 88 tanpa alasan yang jelas.

* * *

Inilah Penampakan Uang 2 Gepok yang Diserahkan Istri Siyono di PP Muhammadiyah

SangPencerah.com – Istri almahum Siyono, Suratmi bersama 3 anaknya menemui Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas di Yogyakarta. Suratmi menceritakan kesedihan atas meninggalnya sang suami dan dua gepok uang yang meresahkannya.

“Saya minta bantuan atas perkara suami saya. Kematiannya tidak wajar, saya minta bantuannya,” tutur Suratmi dengan suara terbata-bata.

Pertemuan ini berlangsung di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Jalan Cik Ditiro, Selasa (29/3/2016). Selain PP Muhammadiyah, hadir pula Komisioner Komnas HAM Siane Indriani. Suratmi menggendong anaknya. Wanita bercadar ini mengatakan dia awalnya diajak ke Jakarta oleh beberapa orang untuk menjenguk suami.

Dia diinapkan di sebuah hotel dan diberi kabar suaminya meninggal dunia. Hatinya kalut dan kebingungan. “Saya langsung salat istikharah. Saya bingung,” imbuhnya.

Kemudian datang dua orang perempuan yang diketahui Suratmi bernama Ayu dan Lastri mendatanginya di hotel. Kedua perempuan ini memberikan segepok uang kepada Suratmi sambil memintanya untuk ikhlas dengan kematian suaminya.

“Bu Ayu mengatakan ini sudah takdir, saya harus ikhlas,” kata Suratmi menirukan Ayu.

Busyro kemudian bertanya, “Bu Ayu itu siapa?”

“Saya tidak tahu, dia nggak pakai seragam. Tapi sepertinya polwan,” jawab Suratmi. Suratmi mengaku baru berkenalan dengan Ayu saat bertemu di hotel tersebut.

“Itu uang dari mana, untuk apa?” Busyro kembali bertanya.

“Katanya satu (gepok) untuk biaya pemakaman jenazah, yang satu lagi untuk anak-anak,” jawab Suratmi.

Keberadaan uang yang dibungkus koran dan terlilit lakban cokelat ini membuat Suratmi tidak tenang. Dia semakin bertanya-tanya ada apa di balik kematian suaminya. Bungkusan uang itu tak dibukanya hingga saat ini.

“Ini yang kecil juga lalu mengigau, ‘abah tembak, abah tembak’,” kata Suratmi sambil terisak. (sp/dtk)

Sumber berita: http://sangpencerah.com/2016/03/inilah-penampakan-uang-2-gepok-diserahkan-istri-siyono-pp-muhammadiyah.html