Showing posts with label Siyono. Show all posts
Showing posts with label Siyono. Show all posts

Monday, April 4, 2016

Dahnil Anzar Simanjuntak: Opini Kepolisian tidak Didasari Pemahaman Hukum yang Baik (Kasus Siyono)


Dahnil Anzar Simanjuntak - Brigjen Agus Rianto mengatakan di Harian Republika, Senin 4/04/16 Hal 9, Bahwa;
"Pertama. Polri telah melaksanakan autopsi dan hasilnya menunjukkan Siyono meninggal Karena Luka akibat benturan di Kepala.

"Kedua. Brigjen Agus menyebutkan Bahwa Luka itu Timbul Karena Siyono melakukan perlawanan terhadap anggota Densus 88 saat didalam mobil"

"Ketiga. selama ini Polri sudah melaksanakan penanganan Siyono sesuai Prosesur hukum, tidak Ada yang ditutup-tutupi. Polri sudah menjelaskan semua. jadi, Masyarakat jangan sampai membuat-buat Opini."

Saya ingin menjawab pernyataan tersebut diatas;

Pertama. Menurut 9 Dokter Tim Forensik Muhammadiyah dan 1 Dokter Forensik yg diutus Polda. Kondisi Jenazah menunjukkan Bahwa Jenazah Siyono belum pernah dilakukan otopsi sama sekali. Jadi, fakta ilmiah outopsi menunjukkan tdk Ada tanda-tanda Jenazah pernah dilakukan otopsi (Seperti dijelaskan Dokter Gatot, Ketua Tim Forensik yg juga didampingi Dokter forensik dari Polda pada saat konpress didepan Rumah bu Suratmi setelah proses otopsi selesai). Kami tidak paham otopsi macam apa yang dilakukan Polisi Versi Brigjen agus, yang menyatakan Bahwa kematian Siyono disebabkan Karena benturan dikepala. Padahal, 9 Tim Forensik Muhammadiyah ditambah 1 orang Dokter dari Polri, menemukan patah Tulang dibeberapa bagian tubuh Seperti dada dan bagian lain yang diakibatkan benda tumpul, tapi Karena tingginya Etika dan profesionalitas ketika ditanya wartawan Apakah itu penyebab kematian Siyono, Dokter Gatot menyatakan belum kami simpulkan menunggu Uji Mikroskopis atau Uji Lab, dan Akan disampaikan nanti setelah Uji lab.

Kedua. Berkaitan Bahwa Luka diperoleh Karena Siyono melakukan perlawanan, Dokter Forensik Muhammadiyah telah menemukan faktanya, dan Akan menyampaikan secara lengkap setelah Uji Laboratorium.

Ketiga. Justru dari keterangan diatas kelihatan Brigjen Agus atas Nama kepolisian yang beropini tidak didasari pemahaman hukum yang baik, merujuk kepada keterangan Siane Indriani, Anggota Komnas HAM ketika kami berdebat dengan Kapolres dilokasi TKP, Komnas HAM yang meminta Muhammadiyah Untuk membantu mengungkap fakta ini punya hak penyelidikan,(UU 39/99 pasal 89 ayat 3 Untuk melaksanakan fungsi komnas ham dalam pemantauan sebagaimana dimaksud dalam pasal 76 komnas ham bertugas dan berwenang melakukan butir (b) penyelidikan dan pemeriksaan terhadap peristiwa yang timbul dalam masyarakat yang berdasarkan sifat atau lingkupnya patut diduga terdapat pelanggaran hak asasi manusia.),

artinya sampai pada proses pencairan fakta melalui otopsi, nah apa yang dilakukan Muhammadiyah melalui outopsi atas permintaan Komnas HAM bukan opini tetapi berusaha menemukan fakta melalui Usaha ilmiah, justru Polri yang berusaha membangun opini Tanpa dasar pijakan ilmiah Seperti bisa menyebut kematian Siyono akibat benturan dikepala Padahal fakta ilmiah menunjukkan tdk pernah Ada otopsi sebelumnya Seperti yang disampaikan Dokter Gatot yang tidak dibantah oleh Dokter forensik dari Polri sendiri.

Mari kita Bantu Polisi menjadi lebih Profesional dan menghargai hukum dan melindungi hak hidup warga negaranya siapa pun Mereka. Ini saatnya kita Bantu Polisi berubah menjadi lebih baik melalui membantu Bu Suratmi istri Almarhum Siyono mencari keadilan.

Terimakasih
Dahnil Anzar Simanjuntak

Wednesday, March 30, 2016

Jonru: Seluruh Perangkat Desa Menolak Otopsi Alm. Suyono?


Jonru - Seluruh Perangkat Desa Menolak Otopsi terhadap Mayat Suyono

Hm.. kok bisa ya? Sungguh aneh!
Dan semakin aneh, tentu makin mencurigakan.

#BubarkanDensus88 !!!

Berikut saya copas status seorang teman mengenai kondisi di desa Suyono:

Rapat belum selesai tapi sudah ada kesimpulan sebagai berikut:

1. Seluruh tokoh masyarakat Rt, Rw, Bpd dan perangkat desa menolak akan dilaksanakannya otopsi.

2. Dan apabila ada pihak yang bersikeras untuk melakukan otopsi maka warga menyuruh untuk dilakukan otopsi di luar Desa Pogung dan jenazahnya tidak boleh dimakamkan di Desa Pogung.

Dan hasil rapat malam ini dibuat surat pernyataan dan ditanda tangani oleh seluruh ketua RT, Rw, Bpd dan perangkat desa.
Hasil rapat malam ini akan langsung disampaikan kepada keluarga alm siyono.

Tindakan cerdas yang semakin membuat yakin Rakyat Indonesia bahwa ada yang TIDAK BERES dalam PENYEBAB KEMATIAN SIYONO.

TERIMA KASIH Pak Kades dan perangkat desa atas KERJASAMANYA.

=========

Sebarkan agar Rakyat Indonesia tahu bagaimana manusia-manusia haram ini mendzalimi warga negara yang tak bersalah bahkan ketika sudah mati sekalipun!!!

Allahumma alaika bi Densus wa BNPT..

(Umaier Khaz)

Tuesday, March 29, 2016

Jonru: Densus88 Harus Dibubarkan!


Jonru - Ternyata Densus88 Memberikan Uang Tutup Mulut Rp 200 Juta Kepada Keluarga Siyono?

Jika ini benar, hm... Densus88 harus DIBUBARKAN !!!
Mereka selama ini ternyata bukan membasmi teroris, tapi membasmi umat Islam!

Saya bahkan punya teman, yang ustadznya ditangkap dan disiksa oleh Densus 88 tanpa alasan yang jelas.

* * *

Inilah Penampakan Uang 2 Gepok yang Diserahkan Istri Siyono di PP Muhammadiyah

SangPencerah.com – Istri almahum Siyono, Suratmi bersama 3 anaknya menemui Ketua PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas di Yogyakarta. Suratmi menceritakan kesedihan atas meninggalnya sang suami dan dua gepok uang yang meresahkannya.

“Saya minta bantuan atas perkara suami saya. Kematiannya tidak wajar, saya minta bantuannya,” tutur Suratmi dengan suara terbata-bata.

Pertemuan ini berlangsung di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Jalan Cik Ditiro, Selasa (29/3/2016). Selain PP Muhammadiyah, hadir pula Komisioner Komnas HAM Siane Indriani. Suratmi menggendong anaknya. Wanita bercadar ini mengatakan dia awalnya diajak ke Jakarta oleh beberapa orang untuk menjenguk suami.

Dia diinapkan di sebuah hotel dan diberi kabar suaminya meninggal dunia. Hatinya kalut dan kebingungan. “Saya langsung salat istikharah. Saya bingung,” imbuhnya.

Kemudian datang dua orang perempuan yang diketahui Suratmi bernama Ayu dan Lastri mendatanginya di hotel. Kedua perempuan ini memberikan segepok uang kepada Suratmi sambil memintanya untuk ikhlas dengan kematian suaminya.

“Bu Ayu mengatakan ini sudah takdir, saya harus ikhlas,” kata Suratmi menirukan Ayu.

Busyro kemudian bertanya, “Bu Ayu itu siapa?”

“Saya tidak tahu, dia nggak pakai seragam. Tapi sepertinya polwan,” jawab Suratmi. Suratmi mengaku baru berkenalan dengan Ayu saat bertemu di hotel tersebut.

“Itu uang dari mana, untuk apa?” Busyro kembali bertanya.

“Katanya satu (gepok) untuk biaya pemakaman jenazah, yang satu lagi untuk anak-anak,” jawab Suratmi.

Keberadaan uang yang dibungkus koran dan terlilit lakban cokelat ini membuat Suratmi tidak tenang. Dia semakin bertanya-tanya ada apa di balik kematian suaminya. Bungkusan uang itu tak dibukanya hingga saat ini.

“Ini yang kecil juga lalu mengigau, ‘abah tembak, abah tembak’,” kata Suratmi sambil terisak. (sp/dtk)

Sumber berita: http://sangpencerah.com/2016/03/inilah-penampakan-uang-2-gepok-diserahkan-istri-siyono-pp-muhammadiyah.html