Showing posts with label Terhangat. Show all posts
Showing posts with label Terhangat. Show all posts

Monday, April 4, 2016

Fahri Hamzah: Jika Kita Terpaksa Pergi Aku Akan Menjadi yang Terakhir


Fahri Hamzah - malam ini, kisah ku mengguncang mu..
kau merasa kita seperti akan berpisah..

kau mendengar seolah aku akan pergi
dan tak akan pernah kembali..

aku melihatmu terpukul.. bersedih..
kata-kata mu tertahan.. terbata-bata..

kau seperti sulit mengungkap perasaan..
bulir-bulir hangat itu mulai mengalir..

aku ingin menenangkanmu sahabat…
jangan bersedih.. lerai airmatamu..

aku ingin mencintaimu tetap seperti dulu..
seperti pelepah dan bulir-bulir..
seperti embun dan ilalang pagi yang dingin..

kau bertanya,
inikah takdir kita dan di sinikah ia berakhir?

aku jawab, tidak..
inilah perjalanan kita dan ia akan terus mengisi hari-hari..

perjalanan kita kaya, perjalanan kita penuh romantika..
aku takkan lupa di mana kau berada.. pada hari ia bermula..

kita disebut ikhwan muda, dan kita duduk bersama..
dalam halaqah kita.. di halaman kampus kita.

kita menghafal alquran..
kita mendalami sunnah dan kehidupan tauladan..

kita mendengar dan bertukar fikiran..
atas risalah akhir zaman.

kita membaca tanda-tanda zaman..
kita membahas dialektika kehidupan..
teori sosial dan sastra perubahan..

hingga ia dianggap sempurna menjadi bekalan..
dan kita terjun ke lapangan..

kini kita telah jauh.. berada di sini..
setelah setahap kesempurnaan..

kita memulai, kita meniti..
kita terus belajar menjadi insan..
menjadi yang datang untuk perbaikan..

maka aku tidak maksudkan ini..
kecuali untuk perbaikan..

jangan bersedih sahabat..
jangan takut dengan jarak..
dunia ini bulat..

perputaran adalah hukum alam yang bergantian..
ditiup angin.. diseret arus pasang..

aku berjanji takkan pergi..
jika kita terpaksa pergi, aku akan menjadi yang terakhir..

aku akan bertahan..
ini rumah ku.. ini rumahmu.. ini rumah kita..

seberapa kuat aku akan menjaga ini semua.. sekuat kau.. sekuat kita semua..

tetapi ini bukan sengketa..
ini cinta.. inilah cara kita saling menjaga..

tetapi jika ia adalah benci..
terbakarlah kita semua jadi debu..

aku berlindung kepada Allah dari benci yang membakar hati..
aku tidak punya kehendak lain kecuali kebaikan dan perbaikan..

hanya itu..
bersabarlah kawanku.. aku mendoakanmu..

@Fahrihamzah, Senin malam (4/4/2016)

(sumber)

Dahnil Anzar Simanjuntak: Opini Kepolisian tidak Didasari Pemahaman Hukum yang Baik (Kasus Siyono)


Dahnil Anzar Simanjuntak - Brigjen Agus Rianto mengatakan di Harian Republika, Senin 4/04/16 Hal 9, Bahwa;
"Pertama. Polri telah melaksanakan autopsi dan hasilnya menunjukkan Siyono meninggal Karena Luka akibat benturan di Kepala.

"Kedua. Brigjen Agus menyebutkan Bahwa Luka itu Timbul Karena Siyono melakukan perlawanan terhadap anggota Densus 88 saat didalam mobil"

"Ketiga. selama ini Polri sudah melaksanakan penanganan Siyono sesuai Prosesur hukum, tidak Ada yang ditutup-tutupi. Polri sudah menjelaskan semua. jadi, Masyarakat jangan sampai membuat-buat Opini."

Saya ingin menjawab pernyataan tersebut diatas;

Pertama. Menurut 9 Dokter Tim Forensik Muhammadiyah dan 1 Dokter Forensik yg diutus Polda. Kondisi Jenazah menunjukkan Bahwa Jenazah Siyono belum pernah dilakukan otopsi sama sekali. Jadi, fakta ilmiah outopsi menunjukkan tdk Ada tanda-tanda Jenazah pernah dilakukan otopsi (Seperti dijelaskan Dokter Gatot, Ketua Tim Forensik yg juga didampingi Dokter forensik dari Polda pada saat konpress didepan Rumah bu Suratmi setelah proses otopsi selesai). Kami tidak paham otopsi macam apa yang dilakukan Polisi Versi Brigjen agus, yang menyatakan Bahwa kematian Siyono disebabkan Karena benturan dikepala. Padahal, 9 Tim Forensik Muhammadiyah ditambah 1 orang Dokter dari Polri, menemukan patah Tulang dibeberapa bagian tubuh Seperti dada dan bagian lain yang diakibatkan benda tumpul, tapi Karena tingginya Etika dan profesionalitas ketika ditanya wartawan Apakah itu penyebab kematian Siyono, Dokter Gatot menyatakan belum kami simpulkan menunggu Uji Mikroskopis atau Uji Lab, dan Akan disampaikan nanti setelah Uji lab.

Kedua. Berkaitan Bahwa Luka diperoleh Karena Siyono melakukan perlawanan, Dokter Forensik Muhammadiyah telah menemukan faktanya, dan Akan menyampaikan secara lengkap setelah Uji Laboratorium.

Ketiga. Justru dari keterangan diatas kelihatan Brigjen Agus atas Nama kepolisian yang beropini tidak didasari pemahaman hukum yang baik, merujuk kepada keterangan Siane Indriani, Anggota Komnas HAM ketika kami berdebat dengan Kapolres dilokasi TKP, Komnas HAM yang meminta Muhammadiyah Untuk membantu mengungkap fakta ini punya hak penyelidikan,(UU 39/99 pasal 89 ayat 3 Untuk melaksanakan fungsi komnas ham dalam pemantauan sebagaimana dimaksud dalam pasal 76 komnas ham bertugas dan berwenang melakukan butir (b) penyelidikan dan pemeriksaan terhadap peristiwa yang timbul dalam masyarakat yang berdasarkan sifat atau lingkupnya patut diduga terdapat pelanggaran hak asasi manusia.),

artinya sampai pada proses pencairan fakta melalui otopsi, nah apa yang dilakukan Muhammadiyah melalui outopsi atas permintaan Komnas HAM bukan opini tetapi berusaha menemukan fakta melalui Usaha ilmiah, justru Polri yang berusaha membangun opini Tanpa dasar pijakan ilmiah Seperti bisa menyebut kematian Siyono akibat benturan dikepala Padahal fakta ilmiah menunjukkan tdk pernah Ada otopsi sebelumnya Seperti yang disampaikan Dokter Gatot yang tidak dibantah oleh Dokter forensik dari Polri sendiri.

Mari kita Bantu Polisi menjadi lebih Profesional dan menghargai hukum dan melindungi hak hidup warga negaranya siapa pun Mereka. Ini saatnya kita Bantu Polisi berubah menjadi lebih baik melalui membantu Bu Suratmi istri Almarhum Siyono mencari keadilan.

Terimakasih
Dahnil Anzar Simanjuntak

Saturday, April 2, 2016